Senyum Yanti
"Mira, kamu dicari bu Dewi," kata Zun kepadaku begitu aku masuk kampus.
Tanpa menjawab perkataan Zun, aku bergegas menuju ruang bu Dewi dengan membawa setumpuk tugasku. Hatiku sedikit was-was. Detak jantungku serasa cepat berdencang. Jemari tanganku bergetar. Begitu aku sampai di depan pintu ruang bu Dewi, aku berujar dalam hati, "Astaghfirullah, bu Dewi tidak ada. Bagaimana nih".
Aku kembali menemui Zunaini yang duduk di serambi kampus. "Alamak, Zun sudah lenyap. Salahku sendiri aku tidak bertanya dulu dimana posisi bu Dewi". Aku harus mencari bu Dewi sebab deadline pengumpulan tugas akhir tinggal sehari lagi. Alhamdulillah, aku pernah bimbingan tugas akhirku di tempat kosnya. Segera kumenuju tempat parkir motor. Aku masih yakin bahwa aku bisa lulus tahun ini. Segala kemungkinan akan kutempuh untuk menemui bu Dewi. Ya, aku butuh persetujuan tanda tangan beliau.
Jarak dari kampus ke kos bu Dewi tak jauh. Jalanan tidak begitu macet. Sepuluh menit telah berlalu. Aku sampai di kos bu Dewi.
"Assalamu alaikum," sapaku. Rumahnya sepi. Aku mengulang salam hingga tiga kali. Bu Dewi belum muncul juga. Seorang ibu sepuh yang mengenakan kebaya keluar.
"Cari siapa mbak?" tanyanya.
"Maaf, Bu. Saya mau bertemu bu Dewi, " kataku sopan.
"Wah, mbak terlambat. Beliau baru saja pulang ke Solo," jawab ibu.
Duh, jantungku serasa mau copot. Tapi, aku tak patah arang.
"Maaf ibu, saya bisa minta alamat bu Dewi yang di Solo?" pintaku.
"Sebentar, ya Mbak". Ibu meninggalkanku. Aku harus nekat. Pertimbanganku jarak Surabaya ke Solo lebih kurang 6 jam. Paling tidak, aku bisa sampai di rumah beliau masih sore.
"Mbak, ini alamat?" Ibu menyerahkan sepotong kertas kecil padaku.
"Mbak, kalau naik bus, mbak bisa turun di UNS. Dari situ, mbak naik angkot turun di terminal. Setelah itu, mbak bisa naik becak ke perumahannya," jelas mbak kos yang lain.
"Baik, terima kasih atas informasinya. Assalamu alaikum".
"Waalaikum salam".
Aku tak banyak pikir. Satu-satunya teman yang bisa menemaniku adalah Suryanti. Kebetulan rumahnya searah jalanku pulang. Dialah teman yang mendampingku saat aku ke Jakarta dulu untuk mencari bahan tugas akhirku. Dia mengajakku untuk menumpang di rumah saudaranya. Kapan pun aku butuh bantuannya, dia siap membantu. Dengan sabar, diantarkan aku ke Perpustakaan Nasional selama satu minggu dan ke kampus UI. Padahal aku mengenal Yanti hanya di halaqoh masjid Al Falah. Bertemu dengannya seminggu sekali. Namun, persahabatanku dengannya sudah berasa lama. Aku seperti adik kakak. Mungkin karena ia Sarjana Agama, ia lebih bisa membimbingku.
"Assalamu alaikum, Yanti".
"Waalaikum salam. Ayo masuk".
Aku duduk di kursi kayu. Tanpa basa basi aku mengutarakan maksud kedatanganku.
"Yanti, ikut aku ke Solo, yuk. Aku perlu minta tanda tangan ke dosenku. Beliau pulang. Kalau skripsiku tidak ditandatangani sekarang, aku bisa lulus semester depan".
"Sudah pernah ke rumahnya?"
"Belum. Aku hanya diberi alamat dan petunjuk. Mumpung masih jam sembilan pagi".
"Baik. Saya ganti dulu, ya".
"Alhamdulillah". Aku bersyukur, Yanti mau menemaniku lagi. Secepat kilat, Yanti telah siap. Aku melajukan motorku ke rumah. Sebelum menuju terminal Purabaya, aku berpamitan pada ayah dan ibu untuk minta restu agar perjalananku lancar dan niatku tercapai. Motor kuparkir di rumah. Aku dan Yanti naik taksi menuju terminal.
Setengah jam kemudian, aku sampai di terminal Purabaya. Aku mencari bus jurusan Solo. Alhamdulillah, aku cepat mendapatkannya dengan bantuan para calo. Selama perjalanan aku berbicara seperlunya. Aku paham, Yanti tidak suka ngobrol yang tak perlu apalagi gibah. Waktu dipergunakan untuk mengucap kalimat toyyibah.
"Mbak, karcis," tanya kernet.
"Solo dua, pak. Turun di UNS," kataku.
Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Setelah kernet memberikan uang kembali, aku larut dalam diam. Beberapa pengamen berseliweran di dalam bus. Setiap bus berhenti di terminal, pengamen dan penjaja makanan naik ke dalam bus. Sampai di Jombang, aku membeli minuman dan kue. Kuberikan pada temanku supaya mulut ini tidak kecut.
Rasa lapar di dalam perut terasa hilang. Keinginan untuk cepat sampai di tempat makin kuat.
Jarum jam di arlojiku menunjuk pukul 16.30.
"UNS Mbak," ujar kernet mengingatkanku.
Aku dan Yanti turun pas di depan halte. Di situ berdiri beberapa mahasiswa. Rupanya mereka hendak pulang.
"Mbak, mau tanya. Kalau ke perumahan Klodran, dari sini naik apa?" tanyaku.
"Naik bus. Nanti turun di halte, lalu ganti becak. Bareng saya aja. Kebetulan saya mau ke arah sana".
"Alhamdulillah terima kasih. Mbak kuliah di UNS?" tanyaku.
"Iya".
"Fakultas apa?"
"Hukum".
Tak berapa lama bus kota lewat. Aku, Yanti, dan teman yang baru kukenal masuk bus. Penumpang cukup padat. Kami berdiri hingga sampai pemberhentian.
Bapak becak menyambut kedatanganku. Kutunjukkan alamat rumah bu Dewi. Rupanya ia memahami alamat yang kumaksud. Tanpa menawar ongkos becak, aku dan Yanti naik. Kami dilewatkan jalan sepi. Sepanjang jalan di sebelah kiri terbentang sawah. Sedangkan di sebelah kanan berdiri pabrik dan gedung perkantoran. Aku tetap husnudzon, pak becak tidak akan menyesatkanku. Kulirik bibir Yanti masih berkomat kamit. Sayup-sayup azan maghrib berkumandang. Aku berniat untuk menjamak sholat.
"Mbak, ini perum Klodran. Rumahnya blok apa?" tanya pak Becak.
"Blok G, pak". Pak Beca mengantarku ke rumah yang kutuju.
"Assalamu alaikum," sapaku.
"Waalaikum salam. Cari siapa mbak?" tanya penghuni rumah.
"Bu Dewi ada?" tanyaku. Aku mulai ragu, yang keluar seorang ibu yang tak kukenal.
"Bu Dewi siapa, mbak?"
"Suaminya pak Amin, dosen UNS," kataku.
"Oh, pak Amin. Beliau sudah pindah". Sejurus kemudian badanku terasa lemas. Jauh-jauh dari Surabaya, masak aku harus gagal. Rupanya Yanti memahami kegalauanku. Ia membantuku minta penjelasannya.
"Pindah dimana bu?" tanya Yanti.
"Blok AA, saya lupa nomor rumahnya. Bilang aja, rumah pak RT".
"Baik, bu. Terima kasih. Kami pamit dulu."
Yanti menuntunku naik becak. Ia memberiku semangat dan tetap berbaik sangka. Sementara pak beca setia mengantarkan kami. Sampai di blok AA, ada seorang Bapak yang pulang dari sholat. Yanti menghentikan beca. Ia turun dan menanyakan rumah pak RT.
Alhamdulillah, tidak sampai lima menit, beca berhenti di depan rumah yang kumaksud. Kuberanikan diri untuk mengucap salam.
"Assalamu alaikum".
"Waalaikum salam". Pak Amin keluar membuka pintu. Ia terlihat heran. Walaupun ia tak mengenalku, aku sangat mengenal muka beliau. Pak Amin pernah diundang sebagai pembicara dalam acara Bulan Bahasa.
"Cari siapa, mbak?" tanyanya.
"Maaf, pak. Saya mahasiswanya bu Dewi. Saya mau minta tanda tangan".
Seketika raut muka beliau menjadi ramah. Aku dan Yanti dipersilakan masuk. Tak lupa kami disuguhkan segelas sirup dan makanan. Bu Dewi menemuiku. Setelah beliau memeriksa beberapa lembar, beliau menandatangani lembar pengesahan.
"Sebenarnya tadi sudah saya titipkan pak Heru untuk menandatangani, Mira. Saya juga sudah menulis pesan di meja".
Aku sempat kaget. Salahku tidak bertanya pada dosen lain dan tidak masuk ke ruangannya pagi tadi.
"Ya, bu Dewi. Maaf, saya tidak membaca pesan ibu. Saya lihat ibu tidak ada, saya langsung ke rumah. Mohon maaf".
"Ya, gak papa. Tolong cetak hurufnya dibuat sama, ya".
"Ya, bu Dewi". Aku tak sempat memikirkan sampai sedetail itu. Maklumlah, aku tak punya komputer. Semua kukerjakan di rental. Usai bu Dewi membubuhkan tanda tangan, hatiku terasa lega. Ada secercah harapan yang lama kunanti. Aku dapat mengikuti ujian skripsi dan mengikuti wisuda tahun ini.
"Selamat ya," ucap Yanti lirih.
Aku berpamitan pada bu Dewi dan pak Amin. Esok, aku dapat mengumpulkan skripsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar